Pdt. Dicky Suwarta: GGP Mampu Bertahan Lebih dari Satu Abad karena Pengajaran yang Tak Tergoyahkan

TANGERANG, BANTEN | zonanasional.id — Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) mampu bertahan melintasi zaman hingga lebih dari satu abad bukan semata-mata karena perjalanan sejarahnya, melainkan karena fondasi pengajaran yang kuat, kebersamaan antarpelayan Tuhan, serta kesetiaan terhadap konstitusi organisasi.

Pesan tersebut ditegaskan Ketua Umum Sinode GGP, Pdt. Dicky Suwarta, dalam pembukaan Sidang Raya (SR) ke-XVI GGP di Tangerang, Banten, Selasa (21/10/2026). Di hadapan sekitar 800 pendeta dan peserta persidangan, ia mengingatkan bahwa keberlangsungan GGP merupakan warisan pelayanan yang harus dijaga bersama dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Sebagai Gereja Pentakosta, tahun ini sudah berusia 103 tahun dan enam bulan lagi berusia 104 tahun,” ungkapnya.

Menurut Dicky, perjalanan panjang GGP hingga melampaui satu abad tidak terlepas dari tiga fondasi utama yang terus menopang kehidupan organisasi dan pelayanannya.

Tiga Fondasi yang Menjaga Keberlangsungan GGP

Pertama, asas pengajaran yang terdokumentasi dengan baik dan tidak tergoyahkan. Dicky menegaskan bahwa perubahan zaman dan perkembangan organisasi tidak boleh mengaburkan prinsip-prinsip pengajaran yang menjadi fondasi sekaligus identitas GGP.

Bagi GGP, mempertahankan warisan iman bukan berarti menolak perkembangan, melainkan memastikan bahwa setiap langkah pelayanan tetap berpijak pada dasar pengajaran yang benar dan telah diwariskan oleh para pendahulu.

Kedua, kebersamaan yang kuat tanpa saling melukai. Dicky menekankan pentingnya menjaga persatuan di seluruh tingkatan organisasi, mulai dari pengurus pusat, daerah, hingga jemaat-jemaat lokal.

Perbedaan pandangan dalam sebuah organisasi merupakan hal yang dapat terjadi. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi dengan kasih, kedewasaan, dan semangat kebersamaan. Persatuan tidak dibangun dengan menghilangkan perbedaan, tetapi dengan menjaga agar perbedaan tidak merusak persekutuan.

Ketiga, memahami konstitusi sebagai jalan pulang. Dicky mengingatkan bahwa setiap pelayan Tuhan dan pengurus organisasi perlu memahami serta menghormati konstitusi GGP sebagai pedoman bersama.

“Sejauh dan selelah apa pun perjalanan kita, Konstitusi GGP adalah jalan pulang, dan Sidang Raya adalah pintunya,” demikian pesan yang disampaikannya.

Ia juga mengingatkan bahwa identitas atau bentuk organisasi baru tidak serta-merta dapat menggantikan kedudukan konstitusi sebagai landasan kehidupan bersama di lingkungan GGP.

Ketiga fondasi tersebut menjadi pengingat bahwa usia panjang sebuah gereja harus disertai kesetiaan terhadap pengajaran, komitmen menjaga persatuan, dan ketaatan pada aturan organisasi.

Sidang Raya Bukan Sekadar Agenda Organisasi

Dalam sambutannya, Dicky mengajak seluruh peserta Sidang Raya ke-XVI GGP untuk mengikuti setiap tahapan persidangan dengan tertib dan penuh tanggung jawab. Menurutnya, kelancaran persidangan merupakan bagian penting dari keberhasilan bersama.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan penyelenggaraan Sidang Raya tidak hanya menjadi tanggung jawab panitia, tetapi juga seluruh jajaran pimpinan dan pengurus Sinode GGP, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sidang Raya menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan pelayanan, memperkuat komitmen organisasi, serta menentukan arah pelayanan GGP ke depan.

Lebih dari sekadar forum pengambilan keputusan, persidangan ini diharapkan menjadi ruang untuk memperbarui kesatuan hati dan meneguhkan kembali panggilan pelayanan yang telah dirintis oleh para pendahulu.

PGLII Dorong GGP Memperkuat Penuaian Jiwa

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Anton Tarigan, mengajak seluruh peserta untuk mendahulukan kepentingan bersama demi menghasilkan keputusan yang berdampak bagi pelayanan gereja dan penuaian jiwa-jiwa baru di Indonesia.

“Mari arahkan pandangan kita untuk penuaian menyambut kedatangan Tuhan Yesus,” ujarnya.

Anton turut menyoroti tantangan pertumbuhan kekristenan di Indonesia. Ia menyebut angka pertumbuhan sekitar 1,1 persen dari total populasi masyarakat Indonesia sebagai gambaran tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dorongan bagi gereja-gereja untuk memperkuat pelayanan penginjilan dan memperluas jangkauan kepada masyarakat.

Ia berharap GGP dapat mengambil bagian lebih besar dalam pelayanan tersebut, sehingga semakin banyak jiwa dijangkau oleh Injil dan dibawa kepada Kristus.

Pesan ini mempertegas bahwa keberhasilan gereja tidak hanya diukur dari lamanya usia organisasi atau kuatnya struktur kelembagaan, tetapi juga dari kesetiaan menjalankan Amanat Agung dan dampak pelayanan bagi kehidupan masyarakat.

Tokoh Lintas Gereja Hadiri Pembukaan

Pembukaan Sidang Raya ke-XVI GGP turut dihadiri sejumlah tokoh gereja dan perwakilan organisasi Kristen, antara lain Lenta Enni Simbolon, Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI); Jason Balompapueng, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI); Anton Tarigan, Ketua PGLII; Benny Halim, Ketua PGI Wilayah Banten; serta Hemden Harapan Nainggolan, Ketua Pembimas Kristen DKI Jakarta.

Kehadiran para tokoh tersebut mencerminkan dukungan dan perhatian terhadap perjalanan pelayanan GGP sekaligus pentingnya membangun kerja sama lintas denominasi dalam menjawab tantangan pelayanan gereja di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Panitia Sidang Raya ke-XVI GGP, Narso, menegaskan bahwa perhelatan tersebut tidak semestinya hanya berfokus pada capaian masa lalu, tetapi juga pada panggilan Tuhan yang masih terbentang di depan.

Menurutnya, Sidang Raya merupakan momentum untuk melihat kembali tanggung jawab pelayanan dan melangkah memasuki kesempatan-kesempatan baru yang telah disediakan Tuhan.

Mengusung Tema tentang Jalan yang Belum Pernah Dilalui

Sidang Raya ke-XVI GGP mengangkat tema yang bersumber dari Yosua 3:4:

“…Maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.”

Tema ini mengandung pesan tentang kesiapan menghadapi masa depan, keberanian melangkah dalam tuntunan Tuhan, serta pentingnya kesatuan hati ketika memasuki fase pelayanan yang baru.

Seperti bangsa Israel yang harus melangkah memasuki wilayah yang belum pernah mereka lalui, GGP juga menghadapi tantangan untuk meneruskan warisan pelayanan sekaligus menjawab kebutuhan generasi mendatang.

Dengan berpegang pada pengajaran yang kokoh, menjaga persatuan, dan menghormati konstitusi, GGP diharapkan mampu melanjutkan perjalanan pelayanannya secara konsisten di tengah perubahan zaman.

Rangkaian pembukaan Sidang Raya diawali dengan ibadah yang dilayani oleh Pdt. Jason Balompapueng selaku Ketua Umum PGPI, kemudian dilanjutkan dengan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya kegiatan persidangan.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Sebagai informasi, Gereja Gerakan Pentakosta berdiri pada 29 Maret 1923 di Cepu, Jawa Tengah. Gereja ini dipelopori oleh Johannes Gerhard Thiessen, seorang misionaris dari gerakan Pentakosta Belanda (Pinksterbeweging) yang datang ke Indonesia pada 1901.

Sejarah panjang tersebut menjadi bagian penting dari identitas GGP. Namun, warisan lebih dari satu abad itu sekaligus menghadirkan tanggung jawab besar bagi generasi penerus untuk menjaga kemurnian pengajaran, merawat persaudaraan, dan meneruskan pelayanan dengan setia.

Pesan utama Sidang Raya ke-XVI GGP menjadi jelas: gereja dapat melintasi zaman apabila tidak kehilangan fondasi yang membentuk identitasnya. Perubahan boleh terjadi, pelayanan boleh berkembang, tetapi kesetiaan terhadap pengajaran, persatuan dalam kasih, dan penghormatan terhadap konstitusi harus tetap menjadi pegangan.

Dengan semangat tersebut, Sidang Raya ke-XVI GGP diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk membawa pelayanan GGP memasuki babak baru demi kemuliaan Tuhan dan penuaian jiwa-jiwa di Indonesia. /Yudistira

Exit mobile version