JAKARTA, 17 Oktober 2026 — Aktivis muda Katolik asal Banten, Ignatius Arie Titahelu, bersama para aktivis eksponen Cipayung Plus dan berbagai organisasi kepemudaan mendeklarasikan Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) dalam konsolidasi nasional yang berlangsung di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Deklarasi tersebut menjadi bagian dari upaya menyatukan semangat, gagasan, dan potensi generasi muda lintas organisasi dalam menyongsong satu abad Sumpah Pemuda serta berkontribusi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Kegiatan ini mengusung tema “Menuju Satu Abad Sumpah Pemuda: Konsolidasi Kekuatan Aktivis Mewujudkan Indonesia Emas 2045.” Berdasarkan informasi penyelenggaraan yang disampaikan, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 1.000 aktivis dari berbagai daerah, termasuk eksponen Cipayung Plus, organisasi kepemudaan, komunitas, dan elemen masyarakat lainnya.
Aktivis Katolik dan Panggilan Kebangsaan
Keterlibatan Ignatius Arie Titahelu dalam deklarasi PEMIRA mencerminkan ruang partisipasi generasi muda Katolik dalam kehidupan kebangsaan yang lebih luas. Bagi aktivis Katolik, keterlibatan dalam organisasi, gerakan sosial, dan ruang demokrasi merupakan bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, persaudaraan, dan solidaritas di tengah masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, terdapat sebuah ungkapan reflektif yang relevan bagi perjalanan aktivisme Katolik: “Aktivis Katolik boleh ada di mana-mana, tetapi pada ujungnya ia tak akan ke mana-mana.”
Ungkapan ini bukan bermakna membatasi langkah atau ruang gerak aktivis Katolik. Sebaliknya, kalimat tersebut menegaskan bahwa seorang aktivis Katolik dapat berkarya di berbagai organisasi, menjalin persahabatan dengan siapa pun, serta mengambil bagian dalam berbagai perjuangan sosial dan kebangsaan tanpa kehilangan akar iman dan identitas moralnya.
Di mana pun seorang aktivis Katolik berada, nilai-nilai Injil harus tetap menjadi kompas dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia boleh hadir dalam ruang politik, sosial, kemasyarakatan, maupun kebudayaan, tetapi orientasi pengabdiannya tetap pada kebenaran, keadilan, perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kepentingan bersama.
Prinsip tersebut sejalan dengan semangat ajaran sosial Gereja Katolik yang mendorong umat untuk terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat serta memperjuangkan kebaikan bersama (bonum commune).
Dengan demikian, kehadiran aktivis Katolik dalam PEMIRA bukan semata-mata tentang memperluas jejaring organisasi, melainkan juga tentang menghadirkan kontribusi nyata bagi persatuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.
Satukan Potensi Pemuda untuk Masa Depan Bangsa
Momentum menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa persatuan tidak cukup hanya dirayakan sebagai warisan sejarah. Semangat tersebut perlu diterjemahkan menjadi kerja bersama yang melampaui perbedaan latar belakang, agama, suku, pandangan, dan organisasi.
PEMIRA mengarahkan konsolidasi ini untuk memperkuat kolaborasi antargenerasi dan lintas organisasi, sekaligus membuka ruang bagi aktivis muda untuk terlibat dalam agenda pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, aktivis muda Katolik memiliki kesempatan untuk menjadi jembatan dialog, memperkuat toleransi, serta membangun kerja sama dengan seluruh komponen bangsa. Semangat persaudaraan tidak berhenti pada kesamaan identitas, tetapi tumbuh melalui kesediaan bekerja bersama demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Persatuan yang hendak dibangun bukanlah keseragaman, melainkan kemampuan mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.
Manifesto Pemuda Indonesia Raya 2026–2045
Dalam rangkaian kegiatan, PEMIRA turut menyampaikan Manifesto Pemuda Indonesia Raya 2026–2045 sebagai gagasan jangka panjang mengenai peran generasi muda dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Manifesto tersebut mencakup agenda menjaga Pancasila dan persatuan bangsa, memperkuat kemandirian pangan dan energi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, mendorong pembangunan desa, serta menolak korupsi, narkoba, dan perjudian.
Agenda pelestarian lingkungan, perlindungan budaya, dan penguatan toleransi juga menjadi bagian dari arah gerakan yang disampaikan.
Bagi aktivis Katolik, agenda-agenda tersebut memiliki relevansi dengan panggilan untuk merawat kehidupan, membela martabat manusia, menjaga keutuhan ciptaan, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan berkeadaban.
Komitmen terhadap lingkungan, misalnya, tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga alam dan memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki lingkungan hidup yang layak.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda, doa lintas agama, serta penyampaian catatan mengenai dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui perspektif Asta Cita oleh perwakilan organisasi. Penyampaian capaian pemerintahan tersebut perlu tetap berpijak pada data yang dapat diverifikasi dan evaluasi yang objektif.
Dari Deklarasi Menuju Pengabdian Nyata
Deklarasi PEMIRA diharapkan menjadi titik awal penguatan komunikasi, konsolidasi, dan kerja sama antarelemen pemuda dalam merumuskan gagasan serta mengambil bagian dalam pembangunan nasional.
Bagi para aktivis muda, deklarasi bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Nilai sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya peserta atau besarnya deklarasi, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjalankan komitmen setelah kegiatan berakhir.
Dalam semangat itulah, ungkapan mengenai aktivis Katolik memperoleh makna yang lebih mendalam: boleh melangkah ke berbagai ruang pengabdian, tetapi tidak boleh kehilangan arah dan nilai yang menjadi dasar perjuangannya.
Seorang aktivis Katolik tidak dipanggil untuk menarik diri dari kehidupan bangsa. Ia justru diharapkan hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama semua golongan, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial. Namun, dalam setiap langkahnya, ia tetap dituntut menjaga integritas, kerendahan hati, keberpihakan kepada mereka yang lemah, serta kesetiaan pada nilai-nilai iman.
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda dan menuju Indonesia Emas 2045, PEMIRA diharapkan tidak berhenti sebagai forum konsolidasi, tetapi berkembang menjadi gerakan yang menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan semangat persatuan, kolaborasi, dan pengabdian, generasi muda diharapkan mampu membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bekerja bagi Indonesia. Sementara bagi aktivis Katolik, keterlibatan di berbagai ruang kebangsaan hendaknya selalu berakar pada iman, berbuah dalam pelayanan, dan berujung pada kebaikan bersama.
red