“Kepahitan Mengacaukan Kedamaian” Renungan Harian Kristen. Senin, 27 Juli 2026. Oleh : Pdt. Dr. Philip S Buulolo

Renungan Senin,27 Juli 2026Oleh : Pdt. Dr. Philip S BuuloloKepahitan Mengacaukan KedamaianIbrani 12 : 14 – 15 “ Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”Damai sejahtera adalah salah satu berkat terbesar yang Tuhan berikan kepada setiap kita orang percaya. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa ada satu hal yang dapat mengacaukan kedamaian itu, yaitu kepahitan. Penulis surat Ibrani menyebut kepahitan sebagai “akar yang pahit”. Mengapa disebut akar? Karena akar bergerak di bawah permukaan. Akar bekerja tidak langsung terlihat, tetapi diam-diam terus bertumbuh dan menjalar kemana-mana di bawah tanah.Kepahitan biasanya berawal dari luka hati yang tidak diselesaikan. Muncul dari kekecewaan yang disimpan. Timbul dari perasaan negatif yang tidak dibereskan. Mula-mula hanya mengganggu pikiran, kemudian menguasai hati, lalu memengaruhi perkataan dan sikap, dan akhirnya merusak hubungan dengan orang lain.Firman Tuhan berkata bahwa akar yang pahit menimbulkan kerusuhan. Artinya, kepahitan tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Hati yang pahit akan sulit menikmati damai sejahtera. Rumah tangga menjadi tegang, persahabatan menjadi renggang, pelayanan menjadi tidak harmonis, bahkan suasana kerja pun dapat dipenuhi konflik. Satu akar kepahitan dapat mengacaukan kedamaian banyak orang.Karena itu, Tuhan memerintahkan kita untuk “berusahalah hidup damai dengan semua orang.” Damai tidak selalu berarti tidak ada perbedaan pendapat, tetapi adanya hati yang rela mengampuni, rendah hati, dan memilih kasih daripada dendam. Kedamaian tidak dimulai dari perubahan orang lain, tetapi dari keputusan kita untuk menyerahkan setiap luka hati kepada Tuhan.Hari Senin ini, marilah kita memeriksa hati kita. Adakah seseorang yang masih kita simpan kesalahannya?Adakah peristiwa yang masih menimbulkan kemarahan setiap kali diingat? Jangan biarkan akar kepahitan terus bertumbuh. Mari cabut akar itu melalui pengampunan dan kasih karunia Tuhan. Semakin cepat akar itu dicabut, semakin cepat pula damai sejahtera kembali memenuhi hati kita.Tuhan Yesus adalah Raja Damai. Ketika kita hidup dekat dengan-Nya, Dia memberikan damai sejahtera yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Jangan biarkan kepahitan mengacaukan damai yang telah Kristus anugerahkan. Pilihlah jalan pengampunan, maka hati kita akan kembali dipenuhi ketenangan dan sukacita.Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *