
JAKARTA, 23 Agustus 2026 | ZN — Sejumlah harapan besar mengiringi kepemimpinan Bishop Dr. Joshua Tewuh, M.Th. setelah dipercaya menjadi Ketua Umum Perkumpulan Pemimpin dan Tokoh Kristen Bersatu (PEMKRIS).
Mandat tersebut dimaknainya bukan sekadar sebagai sebuah jabatan organisasi, melainkan sebagai kepercayaan dan panggilan pelayanan untuk menyatukan potensi para pemimpin dan tokoh Kristen bagi kepentingan bangsa dan negara.
Dengan mandat dan kuasa penuh untuk membentuk komposisi lengkap Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Daerah (DPD), hingga Dewan Pengurus Cabang (DPC) PEMKRIS di seluruh Indonesia, Joshua menegaskan bahwa seluruh proses tersebut harus dijalankan dengan ketergantungan penuh kepada Tuhan, serta berlandaskan keadilan, kebenaran, dan semangat persatuan.
“Kalau bukan Tuhan, tidak mungkin bisa terjadi. Saya sadar diri, saya tidak mungkin bisa. Karena itu saya mengandalkan penuh anugerah Tuhan Yesus,” ujar Joshua Tewuh.
Baginya, kepercayaan yang diberikan oleh para pemimpin dan tokoh Kristen merupakan sebuah anugerah sekaligus kebanggaan kudus. Ia menyadari bahwa banyak figur dengan kapasitas besar berada di tengah-tengah umat Kristen Indonesia, namun kepercayaan justru diberikan kepadanya untuk mengemban amanah tersebut.
Kepercayaan itu kemudian ingin diwujudkannya melalui konsep kepemimpinan mesianik (messianic leadership)—sebuah kepemimpinan yang tidak bertumpu pada kepentingan pribadi maupun sekadar kekuasaan, melainkan berakar pada keadilan dan kebenaran.
Menurut Joshua, nilai tersebut harus menjadi fondasi dalam setiap proses kepemimpinan, baik dalam pengambilan keputusan, membangun organisasi, maupun dalam memperkuat persatuan. Ia berharap PEMKRIS dapat menjadi rumah bersama bagi berbagai elemen Kristen, khususnya para pemimpin dan tokoh Kristen dari berbagai latar belakang, untuk membangun sinergi dan menghasilkan karya nyata bagi Indonesia.
“PEMKRIS harus menjadi katalisator dan konektor bagi seluruh elemen kekristenan, sehingga bersama-sama kita dapat menjadi berkat bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Lebih dari sekadar membangun struktur organisasi, Joshua melihat PEMKRIS memiliki peluang untuk mempertemukan berbagai potensi, gagasan, pengalaman, dan kepemimpinan yang selama ini tersebar di berbagai bidang.
Persatuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kebersamaan secara kelembagaan, tetapi mampu melahirkan kontribusi nyata dalam kehidupan sosial, kebangsaan, serta pelayanan kepada masyarakat.
Dalam visi kepemimpinannya, nilai-nilai Kristiani juga harus hadir melalui tindakan nyata. Keadilan, kebenaran, integritas, kasih, dan damai sejahtera harus menjadi karakter yang dapat dirasakan masyarakat melalui kiprah para pemimpin Kristen.
“Kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang bagaimana kehidupan kita menjadi berkat bagi orang lain,” menjadi semangat yang hendak dibawa dalam perjalanan kepemimpinan PEMKRIS.
Bagi Joshua Tewuh, kepercayaan sebagai Ketua Umum pada akhirnya bukanlah tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang siapa yang bersedia dipakai Tuhan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dengan semangat tersebut, PEMKRIS diharapkan mampu menjadi kekuatan pemersatu yang mempertemukan para pemimpin dan tokoh Kristen dalam satu visi: bersatu, bersinergi, berkarya, dan menjadi berkat bagi Indonesia. (Yudistira)

